Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Selasa , 21 Oktober 2014
   
  LOGIN WEBMAIL
 
Alamat Email
 
 
@umpo.ac.id  
 
Password  
 
 

  MENU UTAMA
Buku Tamu  
Komunitas Alumni  
Informasi Penerimaan MHS 2013  
Pascasarjana  
Informasi Peluang Kerja  
Follow us on facebook  

  FAKULTAS
Teknik Elektro  
Fakultas Agama Islam  
F I S I P  
F K I P  
Fakultas Ekonomi  
Fakultas Teknik Informatika  
Fakultas Kesehatan  

  LINK TERKAIT
Persyarikatan Muhammadiyah  
Ditjen Dikti  
World Web Rank  
Peringkat Versi 4icu.org  
PEMKAB PONOROGO  
Dikti  
Kopertis Wilayah VII  

  AGENDA KAMPUS

21.09.13 10:47:35 WIB
Undangan Penyerahan SK

29.07.13 09:31:29 WIB
Rekruitmen Dosen dan Karyawan Tahun 2013

11.07.13 13:33:36 WIB
Seminar Internasional, Unmuh Gandeng Universiti Kuala Lumpur Malaysia

06.05.13 13:40:32 WIB
Milad Unmuh Ponorogo XXVII

22.02.13 20:11:33 WIB
KAJIAN RUTIN UNTUK PERKUAT AQIDAH MAHASISWA

 

Update : Rabu, 1 Juli 2009 | dibaca 25955 kali

Sejarah lahirnya Reog  
 

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Sejarah

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Sumber : wikipedia.org

 

 

  • Artikel Terbaru
  • Beri Komentar
  • Komentar Terbaru ( 17 )
  • Bagikan
Nama Anda : Data nama harus diisi.
Alamat Kota : Harus diisi.
Email : Format salah
Komentar : Komentar harus diisi.
   
03.11.13 12:08:51 WIB
Oleh : - | -
This website is great 6c5716458cc98b7be93f8bb3d5332c5a
   
02.11.13 22:38:27 WIB
Oleh : - | -
This website is great ecb810cb81df1e30c33bf52e33f9470f
   
26.09.12 20:44:03 WIB
Oleh : wahyu | ponorogo
dwiarpa@yahoo.com singobarong jahat
   
26.09.12 20:42:41 WIB
Oleh : wahyu | ponorogo jawa timur
reog adalah manusia yang dikutuk menjadi manusia harimau yang bernama singobarong
   
10.01.12 02:15:16 WIB
Oleh : ipenVTiwch | iHJzpeRCPbZQUf
Hey, klielr job on that one you guys!
   
01.11.11 11:41:49 WIB
Oleh : |
   
01.11.11 11:41:49 WIB
Oleh : ../../../. |
   
01.11.11 11:41:47 WIB
Oleh : |
   
01.11.11 11:41:47 WIB
Oleh : |
   
01.11.11 11:41:47 WIB
Oleh : |
   
01.11.11 11:41:46 WIB
Oleh : http://e7w |
   
01.11.11 11:41:46 WIB
Oleh : ' onerror= |
   
01.11.11 11:41:46 WIB
Oleh : " onerror= |
   
01.11.11 11:41:46 WIB
Oleh : javascript |
   
10.06.11 08:59:16 WIB
Oleh : Intan C Ha | Malang
Artikel ini bagus... namun dalam historiografi (penulisan sejarah) harus ada bukti jelas, darimana asal sejarah yang anda tulis ini? bukan masalah dalam sejarah jika kesenian ini memiliki banyak versi. TAPI alangkah bagusnya jika penulis menyebutkan darimana asal versi ini... misalkan dari prasasti atau babad, sehingga bisa menjadi referensi bagi yang membutuhkan data tentang sejarah Reyog. Maju terus, JAS MERAH (Jangan sekali-sekali melupakan sejarah)!!
   
24.02.11 21:10:25 WIB
Oleh : widad | bojonegoro
aku jadi bingung. karea versi yang berkembang banyak sekali. trus yang bisa jadi pegangan yang mana... / padahal aku harus mengajarkan sejarah ini kepada anak didik.
   
10.02.11 11:42:08 WIB
Oleh : ferry | blitar
bagus jg reog tsb,tp sayang harga / tarifnya mahal....heee....heeee
   
 
Kirim via YM    
  Bagikan di facebook.com    
  Bagikan di twitter.com    
         

 

  KELEMBAGAAN
Penjaminan Mutu  
LPMI  
Kemahasiswaan  
Penelitian  
Pengabdian  
E-journal  
Perpustakaan  
Organisasi  
Pejabat Struktural  







  SEPUTAR PONOROGO

13.04.12 10:41:35 WIB
PELANTIKAN 13 KEPALA DESA DI KABUPATEN PONOROGO

08.03.11 10:50:52 WIB
Soal Mahalnya Biaya Akte Kelahiran

07.02.11 10:38:07 WIB
KOMPOSISI PDM PONOROGO FIFTY-FIFTY

29.07.09 14:36:41 WIB
Hari Jadi Ponorogo

25.07.09 16:35:47 WIB
Prestasi Ponorogo

 
     
  Copyright © 2009 Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Site Develop by PUSKOM - UMPO
webmaster@umpo.ac.id