- 11 March 2026
- Ajeng Laksmita
UMPO.AC.ID - Bulan Ramadhan sering kali disambut dengan berbagai bentuk kegembiraan menjelang Idulfitri, seperti membeli pakaian baru dan menyiapkan berbagai kebutuhan hari raya. Namun, kegembiraan tersebut tidak cukup hanya dimaknai secara lahiriah. Para ulama mengingatkan bahwa keberhasilan suatu amal justru dapat dilihat setelah amal tersebut selesai dilaksanakan.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan penutupan program Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al Manar yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO). Dalam kesempatan tersebut dijelaskan bahwa keberhasilan menjalani ibadah Ramadhan tidak dapat langsung dinilai pada hari ini, melainkan setelah Ramadhan berakhir—apakah semangat ibadah dan kebaikan tetap terjaga atau justru berkurang.
Hal yang sama juga berlaku bagi para mahasantri yang telah menjalani masa pembinaan selama 30 hari di Pesma Al Manar.
“Materi sudah disampaikan, adab telah dibiasakan. Setelah ini tugas kita adalah melanjutkan kebiasaan baik tersebut. Sebagaimana pesan Rasulullah, khairul a‘mali adwamuha, sebaik-baik amalan adalah yang dilakukan secara kontinu,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada UMPO melalui BP3DI yang telah memberikan dukungan penuh terhadap terselenggaranya program Pesma, serta kepada para musyrif dan musyrifah bersama seluruh mahasantri yang telah berpartisipasi aktif dalam setiap rangkaian kegiatan.
“Meskipun masih banyak kekurangan, seluruh pihak senantiasa berusaha menjadikan hari esok lebih baik daripada hari ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BP3DI UMPO, Sri Susanti, dalam sambutannya sekaligus menutup secara resmi program Pesma Gelombang IV, menyampaikan refleksi mendalam tentang makna perubahan yang diharapkan dari para mahasantri setelah mengikuti pembinaan di pesantren.
Ia mengibaratkan perubahan tersebut dengan dua kemungkinan: menjadi ular atau menjadi ulat. Jika perubahan hanya seperti ular yang berganti kulit, maka yang berubah hanyalah tampilan luar, sementara hati dan adabnya belum sepenuhnya mencerminkan karakter seorang santri.
“Namun jika perubahan itu seperti ulat yang kemudian bertransformasi, maka perubahan terjadi secara menyeluruh. Bukan hanya casing-nya yang terlihat seperti santri, tetapi adab, perilaku, dan cara berpikirnya juga mencerminkan nilai-nilai kesantrian,” ujarnya.
Melalui program Pesma Al Manar ini, diharapkan para mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman spiritual selama Ramadhan, tetapi juga mampu membawa nilai-nilai pesantren tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Kontributor: Rihan Dwidarmawati/Pesma Almanar
Editor: Ajeng Laksmita/Humas UMPO