- 28 July 2026
- Administrator
UMPO.AC.ID – Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) terus memperkuat implementasi budaya mutu melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Berbasis Risiko yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Institusi (LPMI) UMPO di Aula Lantai 4 Gedung Rektorat, Selasa (28/7).
Kegiatan ini diikuti oleh jajaran rektorat, dekan, direktur, ketua program studi, kepala satuan kerja, serta kepala laboratorium di lingkungan UMPO. Hadir sebagai narasumber Prof. Dr. Tria Endah Permatasari, S.K.M., M.K.M., akademisi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta yang memiliki pengalaman dalam pendampingan sistem penjaminan mutu perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UMPO, Dr. Dian Suluh Kusuma Dewi, S.Sos., M.AP., menegaskan bahwa penguatan budaya mutu harus berjalan seiring dengan perkembangan kebijakan nasional. Oleh karena itu, BIMTEK ini menjadi momentum bagi seluruh pimpinan maupun satuan kerja untuk memahami arah perubahan regulasi penjaminan mutu pendidikan tinggi sekaligus mengkaji diferensiasi misi perguruan tinggi sebagai landasan pengembangan institusi yang adaptif dan berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Tria Endah Permatasari memaparkan substansi perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Permendiktisaintek) Nomor 39 Tahun 2025 menjadi Permendiktisaintek Nomor 10 Tahun 2026 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Menurutnya, perubahan regulasi tersebut merupakan langkah pemerintah dalam menyempurnakan sistem penjaminan mutu agar semakin adaptif, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara berkelanjutan. Regulasi tersebut juga memperkuat implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), mekanisme akreditasi perguruan tinggi dan program studi, serta tata kelola lembaga akreditasi agar selaras dengan dinamika pendidikan tinggi di Indonesia.
Selain mengulas regulasi terbaru, Prof. Tria juga mengajak peserta memahami pentingnya diferensiasi misi perguruan tinggi. Menurutnya, setiap perguruan tinggi perlu memiliki identitas, karakteristik, dan keunggulan yang khas sesuai dengan visi institusi, potensi daerah, serta kebutuhan masyarakat. Diferensiasi misi menjadi strategi penting agar perguruan tinggi mampu meningkatkan relevansi, daya saing, serta kontribusinya dalam bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Mengawali pemaparannya, Prof. Tria turut menyampaikan apresiasi atas capaian Universitas Muhammadiyah Ponorogo yang berhasil meraih predikat Perguruan Tinggi Unggul. Menurutnya, capaian tersebut merupakan prestasi yang membanggakan sekaligus menjadi amanah untuk terus melakukan percepatan pembenahan menuju institusi yang semakin bereputasi.
"UMPO ini melejit. Akselerasinya sangat tinggi hingga berhasil meraih predikat Unggul. Setelah unggul, pertanyaannya adalah apa langkah berikutnya? Apakah menuju internasionalisasi atau terus melakukan percepatan pembenahan. Predikat unggul membawa tanggung jawab moral untuk terus berkembang," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa implementasi SPMI berbasis risiko bukan sekadar memenuhi tuntutan regulasi, melainkan menjadi kebutuhan institusi dalam menjaga keberlanjutan mutu. Menurutnya, budaya mutu akan lebih mudah tumbuh apabila dijalankan dengan semangat positif, bukan sebagai beban administrasi.
Prof. Tria mengajak seluruh peserta untuk membangun paradigma baru sebagai "pembahagia mutu", bukan sekadar "pejuang mutu". Dengan demikian, setiap proses penyusunan standar, dokumen, hingga akreditasi dapat dijalankan secara bertahap dan berkelanjutan tanpa menjadi tekanan.
"Kalau di mutu, saya kurang sepakat dengan istilah pejuang mutu. Yang baik adalah pembahagia mutu. Kita lakukan sedikit demi sedikit, satu paragraf, dua paragraf setiap hari, insyaallah semua akan selesai," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Tria juga menekankan bahwa keberhasilan implementasi diferensiasi misi harus tercermin dalam penyusunan kebijakan akademik, pengembangan kurikulum, tata kelola kelembagaan, hingga indikator kinerja institusi. Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan budaya mutu yang tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat, dunia usaha, dunia industri, serta pembangunan daerah.
Melalui kegiatan ini, UMPO menunjukkan komitmennya untuk terus memperkuat budaya mutu dan tata kelola perguruan tinggi yang unggul, adaptif, serta responsif terhadap perubahan kebijakan nasional. Pemahaman terhadap regulasi terbaru dan konsep diferensiasi misi diharapkan menjadi bekal bagi seluruh sivitas akademika dalam mewujudkan Universitas Muhammadiyah Ponorogo sebagai perguruan tinggi yang berdaya saing, inovatif, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia.